Monolog Yang Tiada Akhir

Sesuatu yang menarik itu biasanya dimulai dari sifat uniknya. Bukan hanya lain dari yang lain, tapi memiliki esensi yang 'mbeda' dar biasanya. Dalam setiap geraknya sebagai pribadi ia mesti memiliki kepribadian sendiri, tak terpengaruh dengan derasnya arus yang mempengaruhi di sekelilingnya, dalam semua hal. Ciri itu kadang mengemuka sebagai sosok yang aneh tapi nyata dan tentu sulit menemukan orang yang mudah memahami perbedaanya. Sulit pada budaya yang serasi, budaya yang rentan terhadap gerak elastis etika walau ia berada pada masyarakat demokratis sekalipun.

Sebab, nyatanya toleransi adalah sifat agung--kalau boleh dibilang sangat sulit dijangkau--adalah kelanjutan dari sifat harga menghargai pada tataran dasar yang paling rendah. Menghargai bersifat nilai lebih, tapi toleran lebih dari itu. Ada keharusan untuk memahami dan melihat ke dalam yang lebih jauh, untuk masing-masing diri maupun sosok yang diamatinya. Cukup sulit untuk masyarakat yang belum konsentrasi pada pembangunan untuk sisi tersebut.

Jakarta, barangkali adalah latar budaya yang paling pas untuk menggambarkan permasalahan ini. Kelas masyarakat--ini pun kalau setuju diberikan kelas-kelas yang membatasi--semuanya tumplek di kota negara ini. Semua identitas hampir dapat ditemukan di kota megapolitan ini. Status paling rendah, hingga yang memiliki nilai agung, kadang berpadu dan duduk dalam satu ruang yang tak tersadari bahkan terlihat cocok untuk bersanding. Wilayah-wilayah budaya yang tak teramati kadang lahir dan tumbuh subur di Jakarta. Jakarta menjadi unik, dengan sifat yang multidimensi-nya itu. Kalau ada yang menyebut wajar bahwa dengan landas pacu yang bercabang-cabang itu, maka ada pula permasalahan yang bercabang dan berdaun-daun di ujungnya, banyak sekali, maka itu juga adalah keunikan turunan yang tidak semua kota di dunia memilikinya. Jakarta begitu banyak melahirkan spesies baru yang tak terkendali dan terkenali. Mati satu, maka sifat evolusi yang terkandung subur dengan cepat menggantikan dengan hal baru yang sama sekali tak terduga.

Suatu kali, aku naik bus 'diantar' kawan sejalan di tempat duduk sebalahku. Sekonyong-konyong seorang 'aneh'--keanehannya telah ada sejak pertama melihatnya--kemudian menyumbangkan serangkaian monolog kepada kami, penumpang bus. Aku, dan kawan sejalan di sebelah, barangkali juga adalah makhluk sosial, sama seperti yang lain pada saat berhadapan dengan kejenuhan yang menyelimuti kota ini. Jenuh dengan kemalasan, jenuh dengan kreativitas, panasnya dan kesemrawutan tataanya. Berpikir pertama, bahwa sang pengamen adalah kelas masyarakat 'bawah', maaf--pengandaian ini hanya bersifat supaya mudah dalam menggambarkan, tapi bukan esensinya.

Monolog yang ia bawakan juga lain, ada nada kekuatan yang terkandung dari suaranya yang dalam--kontras dengan tubuhnya yang mungil--mirip seperti Sujewo Tedjo. Maaf sekali lagi maaf, perbandinganku ini semata bukan untuk penilaian satu sama lain, sebab memang keduanya adalah pribadi masing-masing. Isi monolognya pun terbilang lain, barangkali untuk telinga yang biasa mendengarkan dendangan lagu pop yang melenakan. Monolognya adala keluhan dari hati sang seniman yang bertugas memberikan pemikiran lewat kreativitasnya sendiri-sendiri.

"Jangan terlalu didengarkan!" pintaku kepada kawan di sebelah kursiku. Maka untuk mengalihkan perhatiannya aku ceritakan padanya tentang golongan-golongan seniman yang secara global terbagi dalam kota kepercayaan masing-masing. Ada penganut rasional, ada yang menganut paham universal. Paham ini, terpampang dengan jelas pada kasus "Prahara Budaya" meminjam kata Taufik Ismail di tahun 65-an. Bentrokan ideologi secara tragis merambah pada adu fisik. Maka kemudian, lumrahnya sebuah kisah, ada yang kalah ada yang menang, dalam satu sutu pandang. Kenapa dalam satu pandang, sebab ternyata, bagi yang kalah, menganggap kekalahan itu buka sebagai kekalahan, tapi sebagai bentuk dari proses menuju 'kemenangan' yang lebih real.

Monologpun berakhir dengan tidak terlalu kami perhatikan, olehku dan kawan sebelah ini. Sang pengamen kemudian menyodorkan kantong tempat sumbangan dari para penumpang. Satu persatu, bergiliran para penumpang bus memberikan sekedar uang recehan, mungkin bukan sebagai bentuk penghargaan, ini mungkin lho... Tepat di kursi kami, aku dan kawan sebelahku ini, kantong yang sedianya ada di tangan kanan untuk disodorkan agar sopan, berpindah ke tangan kiri dengan agak dijauhkan dari hadapanku yang sudah siap memberikan 'uang receh' yang memang telah kusiapkan. Dan sambil 'nyengir', tangan yang sudah kuulurkan ia tampik dengan menjauhkan kantong hitam itu. "Emang enak dicuekin....." katanya sambil berlalu, meninggalkanku dengan muka bengong dan paras berlumuran malu.

"Plakkkkk!!!!!" kepalaku seperti ditampar dengan kekuatan maha dahsyat, dan mungkin bukan kepala, tapi juga isi-isinya. "Busyettt, kok ada pengamen 'sombong' seperti ini" pikirku, sambil mengumpulkan segenap kesadaran yang sempat menghilang.

Jakarta, telah melahirkan anaknya yang baru tepat di depan mataku, menciumkan bau-bau aneh dihidungku yang tak terbiasa dengan aroma sumpek seperti kepadatan Jakarta.

Kalaulah ada yang mau ditarik pelajaran dari kisah ini, maka aku ingin mengatakan, seperti juga telah kukatakan pada teman sebelahku ini. "Kita nyatanya belum menjadi orang yang menghargai keberadaan orang lain, apalagi menghormatinya".

Penghargaan dan penghormatan telah hilang dalam kehidupan masyarakat yang terlalu berkutat pada kebutuhan yang sifanya sangat fisik. Kita, nyatanya belum bisa mendengarkan monolog dari orang-orang di sekeliling kita dengan benar dan memberi apresiasi. Monolog yang sebetulnya adalah cermin ajaib untuk memperlihatkan realitas yang sebenarnya ada dalam masyarakat. Dan monolog itu belum akan usai.

Bus, terus berjalan mengarah pada tujuannya semula, meninggalkanku, kini sendiri, sebab aku yakin teman di sebelah ini telah berpikir di tempat lain. Ingin sekali aku kembali bertemu dengan sang pembawa monolog, dan meminta maaf sedalamnya. Tapi ya itu, waktu tak bisa diulang. Tuhan menderitakan penyesalan kepadaku dalam bentuknya yang sangat unik.

Maka kawanku, mari kita lebih teliti dalam melihat kenyataan di sekitar hidup. Barangkali kita akan menemukan wejangan berharga dari remah-remah keseharian yang semakin terlupakan.

--Tanah Seratus, Juni 2007
untuk para pengamen jalanan : salam hormat untuk kalian

                            

Maldini

Pada detik-detik terakhir ia ingin memutuskan tentang sesuatu yang akan terjadi pada kelanjutan manusia, yang pertama akan menjadi prioritas perhitungannya barangkali adalah hitungan untung rugi. Rasa adalah nominasi nomor sekian, bahkan kadang tidak menjadi perhatian. Ia ditinggalkan untuk kemudian dijenguk kalau ia mendatangkan nilai yang sudah tercemar dengan angka-angka mutlak. Di mana lagi letak kemanusiaan? Kalau pada akhirnya rasa sudah menjadi kering.

Loyalitas adalah perasaan ketika manusia tidak membutuhkan selain dari kehormatan sebagai bentuk pengorbanan. Ia lahir dari sifat tanpa pamrih, telur dari ketulusan sikap. Loyalitas adalah sikap yang ketika ia mendapatkan pilihan, maka ia menjatuhkan kehendak pada pilihan yang tidak ditimbang dari nilai. Tapi terletak pada itu tadi, hormat dan tanggung jawab.

Maka kemudian hadir pahlawan-pahlawan tanpa gelimang cahaya kejayaan, ia diam tapi dikenal karena unik dalam sikapnya, loyal. Sayangnya, ia tidak mudah kita temukan pada musim modern seperti ini. Kalaupun ada, barangkali ia memang akan luput dari tayangan berita.

Maldini, adalah sosok yang menakjubkan dalam diri AC Milan. Ia tidak seperti pemain sepakbola kebanyakan, baik dari segi kemampuan maupun sikap. Bermula dari pemain cadangan, untuk kemudian hampir mengakhiri dengn kisah sukses yang lain dan menakjubkan. Apa yang lain dari Maldini?

Kemampuannya tidak bisa diragukan lagi, dengan bukti gelar-gelar yang berhasil ia raih bersama klubnya. Namun lebih dari itu, rasanya sikap, yang tercermin dalam kepribadian dan penampilannya, sulit menemukan duanya. Kecendrungan untuk tidak terlalu mengejar ketenaran, menjadikan ia sebagai sosok diam-diam tapi berpengaruh.

AC Milan, menjadi lain dari klub sepakbola lain oleh sebab salah satunya sosok Maldini ini. Kesetiaan yang ia berikan dan kemampuannya meredam emosi menjadikan sosok panutan bukan sekadar pemegang ban kapten.

Pada ritual pemberian trofi piala Liga Champion Eropa. Ia memang tampak ceria, seceria kesuksekan Milan dalam merengkuh gelar paling diidamkan semua klub untuk kesekian kalinya. Ia berjalan sederhana dirumbung kawan-kawan yang salut akan dedikasinya. Cedera yang menimpanya ia lewati dengan ajaib, bukan resep dokter yang menyembuhkan tapi semangat dedikasi, menurutku.

Satu persatu, medali itu dikalungkan oleh Michael Platini, dan lihatlah, ia berjalan di urutan terakhir untuk memberikan kebahagiaan awal pada rekan-rekannya, sungguh sebuah sikap yang bersahaja. Tapi lihatlah, ia yang kemudian didaulat untuk memegang trofi pertama-tama.

Terlepas dari dramatisir suasana, dan konsep acara yang menakjubka. Maldini tetap mengadirkan suasana yang lain di kubu Ac Milan.

Sekali lagi, loyalitas kemudian berakhir pada kejayaan seorang sosok yang berjuang. Tengoklah suasana kita, Sepak Bola Nasional, hiruk pikuk politik negeri yang compang camping ini. Barangkali kita harus sama-sama belajar pada sikap sang Paulo Maldini.

Reformasi ala Indonesia

Kawan-kawan aktivis mahasiswa 98 tentu ingat sejarah tentang kata reformasi. sebuah kata magis yang menggeberak kemarahan semua orang, memacu emosi dan semangat untuk bertindak. Nun, beberapa tahun yang lalu, kata indah bak rembulan di saat-saaat purnama.

Reformasi kita berjalan dan terombang-ambing dalam geraknya sendiri, berbeda dan memiliki keunikan sendiri. Diam tapi terus berjalan. Konon kata orang, "ya inilah indonesia, selain nyontek, reformasinya pun seperti ini..."

tak usah kecewa, sebab perasaan itu telah terlalu banyak memakan waktu, membuang tenaga yang percuma, kadang juga seperti onani. puas tapi hanya sebatas itu-itu saja. reformasi kita adalah reformasi yang menggumpal di satu titik. cenderung menggelembung dalam anyaman satu simpul saja.

Habibi bilang, para petinggi lebih banyak terjerat dalam arus politik membabi buta. semua orang bisa melihat kondisi, tapi tak mau dan tak bisa bergerak. semua orang dapat dengan mudah bicara tentang analisis kesalahan masing-masing, tapi menghindar dari kerja setelah itu. alasan menjadi senjata ampuh rasa sakit dan sakit menjadi makanan sehari-hari yang kian nikmat dan nikmat.

Para pemimpin terlalu fokus dengan penyelamatan kepemimpinannya, terlalu hati-hati menjaga citra diri agar suasana nyaman dalam kekuasaan berjalan langgeng, kalau bisa selamanya, walau undang-undang tidak mengijinkan. Lalu kapan kita berbuat, kalau semua orang, politikus kecil sampai besar semuanya bersifat sama. sama-sama ingin bertahan? Citra yang mereka anggap sama sekali tidak dijelaskan oleh tindakan yang merupakan cermin dari gambar diri masing-masing. Tapi yang ada adalah pencitraan, lewat apa saja. Iklas, tapi tidak ikhlas, jujur dengan kebohongan sendiri supaya terlihat jujur, dan semua orang jadi menghormati.

Fachri Ali, berkata. Bagusnya, pemimpin tidak memikirkan apakah kekuasaanya akan bertahan atau tidak, lalu ia fokus pada permasalahan yang sedang dihadapi. Demikianlah. Persetan dengan citra.....

Walhasil, inilah reformasi kita. Berprestasi atau tidak, harus kita akui sebagai keadaan aktual masyarakat yang bernama Indonesia.

8, 9, 10, 01, 02, 03, 04, 05, 06, 07... sudah sembilan tahun. bukankah waktu itu sudah cukup lama bagi kita untuk sama-sama belajar?

Kebangkitan

Garin, sutradara film itu pernah bilang. Ada dua macam kebajikan yang harus dipertahankan dalam menuju kebangkitan: pertama kebajikan personal macam kejujuran, sportifitas, keuletan, juga pantang menyerah. Kedua tentang kebajikan yang lebih besar dari itu tapi berakar dari pribadi-pribadi tadi, seperti toleran, menghargai budaya orang lain yang berbeda....saya setuju.

Konon, di Amerika itu waktu terjadi kondisi kebudayaan menyentuh titik yang paling rendah, maka langkah pertama yang dilakukan adalah membangkitkan dua kebajikan itu tadi. Pribadi dan masyarakatnya.

Tanyalah pada masing-masing kita, mestinya begitu. Di hari Kebangkitan Nasional ini, sudahkan kita menjadi manusia yang mau bangkit. Sebuah kesadaran yang sulit memang, tapi harus diakui sebagai sebuah kekhilaafan kalau ia memang masih salah selama ini.

Bung Tirto saja baru kita kenal sebagai pahlawan nasional, setelah hampir sekian lama terlupakan. Bukankah ini bentuk kealfaan kita sebagai pribadi dan masyarakat sejarah?

Bangkit. Ya dari kita sendiri donk

Pengembara Itu Telah Pergi

Pengembara itu telah pergi. Kata seseorang kepadaku, di sebuah persimpangan yang menjadi tempat perjanjian kami untuk bertemu. Ia berjalan ke arah barat, hanya dengan sesandang tas di punggungnya, tak lebih dari itu. Pakaiannya juga adalah yang dikenakannya ketika perjumpaan pertama kami, masih kata orang itu.

"Adakah ia menitip pesan untukku ?"

"Nona, dia adalah seorang pengelana, pengembara, pejalan kaki yang jauh, akan lebih baik kalau dilupakan. Dari pada meninggalkan kenangan hingga mengguratkan rasa sakit. Sudahlah".

Ia kemudian memberikan sesuatu yang di bungkus oleh secarik kain berwarna jingga, yang aku kenal adalah kain yang sering ia ikatkan di kepalanya. Di sudut kain itu tertulis sebuah huruf 'N', ia tidak pernah bercerita apa arti huruf itu, masih menjadi rahasia segelap malam yang ia simpan dari sorot matanya yang tajam.

"Maafkan, aku hanyalah seorang pengelana, tak baik untuk dikenal lebih dekat" katanya di suatu malam, di sudut taman kota bermandikan cahaya bulan. Yang jelas, saat itu aku tidak merasakan kehampaan yang sangat seperti sekarang. Megapa manusia harus merasakan kehilangan?

Aku begitu terlarut dalam gelombang kenangan yang sejenak tapi mengalun lambat dan lama, hingga kepergiannya itu tidak pernah aku sadari.

Sekarang hanya ada sepi, yang menggurat lewat suasana lengang di persimpangan jalan itu. Persimpangan ini adalah batas kota. Sejenak aku memandang ujung jalan yang mengarah ke matahari terbenam. Sesekali ada lewat kendaraan yang melintasi jalan itu. Jalan ini memang jalan satu-satunya yang menghubungkan kota dengan dunia luar. Ia telah pergi, kemanakah ia gerangan, apakah ia akan berkunjung ke Negeri Senja* seperti yang pernah ia ceritakan kepadaku beberapa waktu yang lalu? Negeri Senja, negeri yang setiap saat dalam keadaan senja. Negeri dimana waktu tidak berlaku, tak ada pagi, tak ada siang dan tak ada malam. Yang ada hanyalah suasana remang, seperti senja sekarang ini. Katanya waktu itu, ketika kami bercengkerama di sela waktu, saat senja memerah di pantai kota.

Pandanganku masih mengarah ke ujung jalan, aku belum hendak beranjak, seakan berharap bayangannya akan muncul dari ujung jalan itu.

Seperti diteriaki angin, aku dikagetkan oleh bungkusan yang tak sengaja jatuh dari peganganku, seolah-olah lebih menegaskan bahwa kini aku telah sendiri. Ku ambil bungkusan itu. Lalu dengan perlahan berjalan menuju bangku kayu yang terletak di pinggir jalan. Sedikit terlindung oleh jangkauan daun beringin yang berdiri rimbun di pinggir jalan. Bangku ini adalah tempat orang-orang yang biasa beristirahat di tengah perjalanan, atau bagi penduduk kota yang kebetulan menunggu kedatangan orang, atau orang seperti saya yang mengantar kepergiaan seseorang.

Dalam segenap ragu, aku kemudian memutuskan untuk tidak membuka bungkusan itu. Kupandangi saja kain jingga yang membalutnya. Ah ini adalah secarik kain yang ia kenakan sebagai ikat kepala pada hari itu. Kenanganku kembali pada pertemuan kami beberapa saat yang telah lewat.

Di sebuah taman yang memberikan tempat kepada kami untuk bertemu. Aku tak mengenalnya, dan ia juga tidak mengenalku. Namun apalah artinya perkenalan, toh, perjumpaan yang beberapa kerjapan mata saja, sanggup meredakan amukan samudera. Aku ingat, ketika ia mengulurkan tangan seraya memanggilku, "Nona, sapu tangan anda terjatuh, di dekat pintu masuk" sambil memberikan sapu tangan merah yang memang milikku itu. Kusaksikan ia telah berdiri dekat di depanku, kepalanya agak tertunduk, dan dikepalanya terikat kain jingga yang kini berada di tanganku.

"Oh, terima kasih Saudara".

Mata kami beradu pandang tak terelakkan. Sorotnya begitu tajam. Aku tak kuat untuk melanjutkan pertemuan mata itu, lalu kualihkan perhatian dengan memandang agak ke atas, kepalanya, lalu turun ke perawakannya yang agak kurus. Ia memakai tas yang di sandang di belakang punggungnya, kulitnya kuning kehitaman, agak mengkilat dengan sedikit keringat yang memercik dari pori-pori kulit yang cukup jelas terlihat di tangannya. Nafasnya tenang, dan tidak nampak tergesa-gesa.

"Terima kasih Saudara, memang benar itu sapu tangan saya" kataku lebih untuk memecah kekikukan yang terperangkap sesaat. Ia kemudian mengangsurkan tangan kanannya yang memegang sapu tangan. Kemudian ku ambil dengan hati-hati, tangan kami sedikit bersentuhan yang membuatku kaget, juga ia. Dengan sedikit malu dan enggan aku kemudian menarik tanganku.

"Mari", katanya seraya hendak berbalik dan beranjak pergi.

"Tunggu Saudara" kataku setelah dapat menguasai rasa gugup di dada.

"Perkenalkan namaku, Helen Devi Rohimmah. Sudikah saudara berkenalan dengan saya?" kataku sambil mengulurkan tangan. Ia kemudian tersenyum sambil ikut menjabat erat tangan saya. Pegangannya yang erat mengalirkan rasa hangat yang menentramkan. Masih dengan tersenyum ia kemudian berinisiatif melepaskan jabatan itu.

"Saya hanyalah pejalan jauh, Saudari, tak baik mengenal saya".

"Setidaknya, adakah yang dapat menjadikan tanda bahwa Saudara pernah bertemu dengan saya, dan pernah berjasa mengembalikan sapu tangan kesayangan saya ini?" pintaku lagi.

Begitulah awal perkenalan kami yang sangat sederhana. Ia kemudian berlalu, dan seperti bersekongkol dengan waktu, yang menyebabkan kami bertemu kembali di lain saat. Pertemuan kedua, ia sudah nampak akrab, cukup terbuka, yang menjadikan jalan untuk memulai pembicaraan yang baru. Tapi yang jelas, ia sama sekali belum menyebutkan namanya. Ah biarlah, pada kondisi seperti ini, nama sudah tidak berarti lagi. Perkenalan dan bersahabatan ternyata lebih memerlukan saling pengertian daripada simbol-simbol yang kadang semu. Dan jumlah pertemua ternyata tidak menjadi perhitungan, apakah persahabatan telah akrab dan saling mengenal. Ia yang pendiam, ternyata telah begitu banyak bercerita lewat pertemuan-pertemuan yang sebetulnya tidak pernah kami siapkan. Apakah ini takdir? Untuk pertama kalinya aku mau berdamai dengan takdir, yang selama ini tidak pernah memihak kepada perempuan seperti saya. Pengobral dosa dan pencinta kegelapan. Tidak hanya manusia yang mencibir terhadap kehadiran saya, dunia, bahkan nasib seperti menertawakan ketidakberdayaanku yang lahir dari tragedi masa lalu.

Menitikkan air mata adalah rutinitasku yang berlangsung pada malam-malam yang panjang. Kesedihan sudah begitu berkarib dengan kedatangan keremangan, menjemput dan memaksaku memasuki kehidupan malam yang semakin memuakkan. Bayangan-bayangan keganasan kerusuhan seperti menari-nari pada setiap aku melakukan pertemuan dengan laki-laki. Wajah-wajah klimis tidak pernah menggambarkan bahwa mereka lebih baik dari sekumpulan binatang. Aku muak dan terkadang mau muntah tapi tidak bisa bergerak, tidak bisa beringsut, dari cengkeraman nasib yang begitu jahat.

Bayang-bayang inilah yang kemudian membuatku bertanya atas keadilan dan kasih. Mengapa aku begitu jauh dari gerangan impian itu? Ataukah Tuhan sudah tidak pernah bertahta pada kehidupan perempuan malang sepertiku, perempuan yang berusaha bangkit dari sisa kerusuhan sepuluh tahun yang lalu. Jakarta telah lama aku tinggalkan, tapi kenangan pahit tidak juga beranjak dari lingkaran nasib. Seakan nasib adalah harga yang begitu mahal untuk dijadikan kesenangan. Hingga aku memutuskan untuk menjadi sahabat malam, dan mencemooh takdir yang tidak adil. Kebenaran bagiku sudah tidak berlaku lagi, dan keadilan sudah kuanggap sebagai sampah teronggok yang menuju busuk, hanya memberikan rejeki kepada pemulung-pemulung rakus. Kota yang kuharap menjadi pelabuhan terakhir dan pelipur hidup, ternyata hadir sebagai penipu dan aku terjerat, tak bisa melepaskan diri. Hingga.

Perjumpaan ini telah membuatku sedikit berharap. Ah, Tuhan ternyata tidak sepenuhnya pergi, inikah kalimah sederhana dari kitab-kitab suci itu?

Kebahagiaan yang merayap sedikit banyak telah berbuah ketenangan. Dan ia mengajarkan kedamaian yang begitu menyenangkan. Aku kemudian menjelma menjadi seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru, sungguh aku begitu bahagia. Tapi kebahagiaan tetaplah pertarungan nasib, ia tidak sempurna apalagi pasti. Ia tidak bisa menjadi keabadian.

Ia kemudian bercerita tentang Negeri Senja, dari matanya aku tahu bahwa ia sungguh berharap untuk mencapainya, sebuah sorot yang aku takutkan akan terjadi. Apakah begini laki-laki yang baik itu? Ia hadir sebagai payung yang sempurna, tiba-tiba hendak terbang tanpa mempedulikan gadis kecil yang menangis terguyur nasib yang tidak bersahabat.

"Nona tidak bisa membuatku mengurungkan niat sebagai pejalan kaki. Kakiku adalah bumi, dan matahari adalah seteguk air yang menyinarkan kedamaian pada jiwa-jiwa pengelana. Aku memang jahat, tapi kejahatan adalah hadiah kebenaran yang akan kita temukan di impian yang menunggumu di depan. Engkau perempuan yang tegar, yang mendapatkan peruntungan, berguru langsung kepada nasib, ambilah kebahagiaan itu tanpa rasa kecewa. Temui aku di persimpangan jalan, tepat ketika bunga pukul empat muncul, esok hari" katanya pada suata malam. Lalu pergi dengan langkah pasti. Mengapa orang baik selalu pergi, dan mengapa kepergian selalu meninggalkan kenangan?

Matahari sore sudah mulai meredup, seperti lampu yang tiba-tiba kehabisan minyak yang menjadi bahan bakarnya. Aku sadar, sebentar lagi, malam akan datang. Dan aku harus berhadapan dengan duniaku yang lain, dunia lain yang menjadi duniaku yang sangat nyata. Masih terasa hangat hawa tubuhnya di sekelilingku, mungkin sebelum pergi, ia juga telah duduk di kursi kayu ini. Lalu dengan perlahan kubuka bungkusan yang ia tinggalkan itu, semata hanya sebagai isyarat, bahwa aku merelakan kepergiaannya.

Di dalamnya aku temukan sebuah buku berjudul Sang Pengelana, dan di pojok kiri bawah aku menemukan pengarangnya, K. Gibran, dan secarik kertas yang bertuliskan tangannya. Sekonyong-konyong dari tulisan itu bermuncratanlah kata-kata dari suaranya yang sederhana.

"Aku berikan kepadamu secarik kain jingga
sebuah buku, bacalah

Andai aku elang
aku berharap engkau adalah kutilang
Berkawan langit menggapi bintang"

Tamparan angin, menyadarkanku untuk segera beranjak. Kutinggalkan bangku kayu di persimpangan jalan itu dengan segenam rasa di dada. Inikah perjalanan yang dimaksudnya itu, aku kemudian melangkah.

Jogjakarta, Maret 2004

catatan:
*Negeri Senja : adalah judul sebuah roman yang ditulis oleh Seno Gumira Adji Darma, terbit pada akhir tahun 2003. Roman in berkisah tentang sebuah negeri yang selalu dalam keadaan senja, waktu berlaku mutlak, senja setiap saat. Penggunaan kata 'senja' sering digunakan oleh Seno secara konsisten dan saling berhubungan. Tercatat ada beberapa karya Seno dengan setting Negeri Senja ini.

Bunga pukul empat adalah bunga yang tingginya tidak lebih dari sepinggang, batangnya beruas-ruas, bunganya ada yang berwarna putih dan merah serta putih dengan bintik-bintik merah. Bunga ini selalu kembang pada waktu sekitar pukul empat sore. Di daerah Bengkulu Selatan, bunga ini dijadikan tanda untuk segera melakukan sholat Ashar, atau waktu untuk memasak sore hari.

Sang Pengelana adalah buku karya Khalil Gibran, karya terjemahan oleh Olenka Fatten HP. Diterbitkan pertama oleh penerbit Navila pada September 2000. Judul asli karya ini adalah The Wanderer I Hope Your Happines.