Pengembara Itu Telah Pergi
Pengembara itu telah pergi. Kata seseorang kepadaku, di sebuah persimpangan yang menjadi tempat perjanjian kami untuk bertemu. Ia berjalan ke arah barat, hanya dengan sesandang tas di punggungnya, tak lebih dari itu. Pakaiannya juga adalah yang dikenakannya ketika perjumpaan pertama kami, masih kata orang itu.
"Adakah ia menitip pesan untukku ?"
"Nona, dia adalah seorang pengelana, pengembara, pejalan kaki yang jauh, akan lebih baik kalau dilupakan. Dari pada meninggalkan kenangan hingga mengguratkan rasa sakit. Sudahlah".
Ia kemudian memberikan sesuatu yang di bungkus oleh secarik kain berwarna jingga, yang aku kenal adalah kain yang sering ia ikatkan di kepalanya. Di sudut kain itu tertulis sebuah huruf 'N', ia tidak pernah bercerita apa arti huruf itu, masih menjadi rahasia segelap malam yang ia simpan dari sorot matanya yang tajam.
"Maafkan, aku hanyalah seorang pengelana, tak baik untuk dikenal lebih dekat" katanya di suatu malam, di sudut taman kota bermandikan cahaya bulan. Yang jelas, saat itu aku tidak merasakan kehampaan yang sangat seperti sekarang. Megapa manusia harus merasakan kehilangan?
Aku begitu terlarut dalam gelombang kenangan yang sejenak tapi mengalun lambat dan lama, hingga kepergiannya itu tidak pernah aku sadari.
Sekarang hanya ada sepi, yang menggurat lewat suasana lengang di persimpangan jalan itu. Persimpangan ini adalah batas kota. Sejenak aku memandang ujung jalan yang mengarah ke matahari terbenam. Sesekali ada lewat kendaraan yang melintasi jalan itu. Jalan ini memang jalan satu-satunya yang menghubungkan kota dengan dunia luar. Ia telah pergi, kemanakah ia gerangan, apakah ia akan berkunjung ke Negeri Senja* seperti yang pernah ia ceritakan kepadaku beberapa waktu yang lalu? Negeri Senja, negeri yang setiap saat dalam keadaan senja. Negeri dimana waktu tidak berlaku, tak ada pagi, tak ada siang dan tak ada malam. Yang ada hanyalah suasana remang, seperti senja sekarang ini. Katanya waktu itu, ketika kami bercengkerama di sela waktu, saat senja memerah di pantai kota.
Pandanganku masih mengarah ke ujung jalan, aku belum hendak beranjak, seakan berharap bayangannya akan muncul dari ujung jalan itu.
Seperti diteriaki angin, aku dikagetkan oleh bungkusan yang tak sengaja jatuh dari peganganku, seolah-olah lebih menegaskan bahwa kini aku telah sendiri. Ku ambil bungkusan itu. Lalu dengan perlahan berjalan menuju bangku kayu yang terletak di pinggir jalan. Sedikit terlindung oleh jangkauan daun beringin yang berdiri rimbun di pinggir jalan. Bangku ini adalah tempat orang-orang yang biasa beristirahat di tengah perjalanan, atau bagi penduduk kota yang kebetulan menunggu kedatangan orang, atau orang seperti saya yang mengantar kepergiaan seseorang.
Dalam segenap ragu, aku kemudian memutuskan untuk tidak membuka bungkusan itu. Kupandangi saja kain jingga yang membalutnya. Ah ini adalah secarik kain yang ia kenakan sebagai ikat kepala pada hari itu. Kenanganku kembali pada pertemuan kami beberapa saat yang telah lewat.
Di sebuah taman yang memberikan tempat kepada kami untuk bertemu. Aku tak mengenalnya, dan ia juga tidak mengenalku. Namun apalah artinya perkenalan, toh, perjumpaan yang beberapa kerjapan mata saja, sanggup meredakan amukan samudera. Aku ingat, ketika ia mengulurkan tangan seraya memanggilku, "Nona, sapu tangan anda terjatuh, di dekat pintu masuk" sambil memberikan sapu tangan merah yang memang milikku itu. Kusaksikan ia telah berdiri dekat di depanku, kepalanya agak tertunduk, dan dikepalanya terikat kain jingga yang kini berada di tanganku.
"Oh, terima kasih Saudara".
Mata kami beradu pandang tak terelakkan. Sorotnya begitu tajam. Aku tak kuat untuk melanjutkan pertemuan mata itu, lalu kualihkan perhatian dengan memandang agak ke atas, kepalanya, lalu turun ke perawakannya yang agak kurus. Ia memakai tas yang di sandang di belakang punggungnya, kulitnya kuning kehitaman, agak mengkilat dengan sedikit keringat yang memercik dari pori-pori kulit yang cukup jelas terlihat di tangannya. Nafasnya tenang, dan tidak nampak tergesa-gesa.
"Terima kasih Saudara, memang benar itu sapu tangan saya" kataku lebih untuk memecah kekikukan yang terperangkap sesaat. Ia kemudian mengangsurkan tangan kanannya yang memegang sapu tangan. Kemudian ku ambil dengan hati-hati, tangan kami sedikit bersentuhan yang membuatku kaget, juga ia. Dengan sedikit malu dan enggan aku kemudian menarik tanganku.
"Mari", katanya seraya hendak berbalik dan beranjak pergi.
"Tunggu Saudara" kataku setelah dapat menguasai rasa gugup di dada.
"Perkenalkan namaku, Helen Devi Rohimmah. Sudikah saudara berkenalan dengan saya?" kataku sambil mengulurkan tangan. Ia kemudian tersenyum sambil ikut menjabat erat tangan saya. Pegangannya yang erat mengalirkan rasa hangat yang menentramkan. Masih dengan tersenyum ia kemudian berinisiatif melepaskan jabatan itu.
"Saya hanyalah pejalan jauh, Saudari, tak baik mengenal saya".
"Setidaknya, adakah yang dapat menjadikan tanda bahwa Saudara pernah bertemu dengan saya, dan pernah berjasa mengembalikan sapu tangan kesayangan saya ini?" pintaku lagi.
Begitulah awal perkenalan kami yang sangat sederhana. Ia kemudian berlalu, dan seperti bersekongkol dengan waktu, yang menyebabkan kami bertemu kembali di lain saat. Pertemuan kedua, ia sudah nampak akrab, cukup terbuka, yang menjadikan jalan untuk memulai pembicaraan yang baru. Tapi yang jelas, ia sama sekali belum menyebutkan namanya. Ah biarlah, pada kondisi seperti ini, nama sudah tidak berarti lagi. Perkenalan dan bersahabatan ternyata lebih memerlukan saling pengertian daripada simbol-simbol yang kadang semu. Dan jumlah pertemua ternyata tidak menjadi perhitungan, apakah persahabatan telah akrab dan saling mengenal. Ia yang pendiam, ternyata telah begitu banyak bercerita lewat pertemuan-pertemuan yang sebetulnya tidak pernah kami siapkan. Apakah ini takdir? Untuk pertama kalinya aku mau berdamai dengan takdir, yang selama ini tidak pernah memihak kepada perempuan seperti saya. Pengobral dosa dan pencinta kegelapan. Tidak hanya manusia yang mencibir terhadap kehadiran saya, dunia, bahkan nasib seperti menertawakan ketidakberdayaanku yang lahir dari tragedi masa lalu.
Menitikkan air mata adalah rutinitasku yang berlangsung pada malam-malam yang panjang. Kesedihan sudah begitu berkarib dengan kedatangan keremangan, menjemput dan memaksaku memasuki kehidupan malam yang semakin memuakkan. Bayangan-bayangan keganasan kerusuhan seperti menari-nari pada setiap aku melakukan pertemuan dengan laki-laki. Wajah-wajah klimis tidak pernah menggambarkan bahwa mereka lebih baik dari sekumpulan binatang. Aku muak dan terkadang mau muntah tapi tidak bisa bergerak, tidak bisa beringsut, dari cengkeraman nasib yang begitu jahat.
Bayang-bayang inilah yang kemudian membuatku bertanya atas keadilan dan kasih. Mengapa aku begitu jauh dari gerangan impian itu? Ataukah Tuhan sudah tidak pernah bertahta pada kehidupan perempuan malang sepertiku, perempuan yang berusaha bangkit dari sisa kerusuhan sepuluh tahun yang lalu. Jakarta telah lama aku tinggalkan, tapi kenangan pahit tidak juga beranjak dari lingkaran nasib. Seakan nasib adalah harga yang begitu mahal untuk dijadikan kesenangan. Hingga aku memutuskan untuk menjadi sahabat malam, dan mencemooh takdir yang tidak adil. Kebenaran bagiku sudah tidak berlaku lagi, dan keadilan sudah kuanggap sebagai sampah teronggok yang menuju busuk, hanya memberikan rejeki kepada pemulung-pemulung rakus. Kota yang kuharap menjadi pelabuhan terakhir dan pelipur hidup, ternyata hadir sebagai penipu dan aku terjerat, tak bisa melepaskan diri. Hingga.
Perjumpaan ini telah membuatku sedikit berharap. Ah, Tuhan ternyata tidak sepenuhnya pergi, inikah kalimah sederhana dari kitab-kitab suci itu?
Kebahagiaan yang merayap sedikit banyak telah berbuah ketenangan. Dan ia mengajarkan kedamaian yang begitu menyenangkan. Aku kemudian menjelma menjadi seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru, sungguh aku begitu bahagia. Tapi kebahagiaan tetaplah pertarungan nasib, ia tidak sempurna apalagi pasti. Ia tidak bisa menjadi keabadian.
Ia kemudian bercerita tentang Negeri Senja, dari matanya aku tahu bahwa ia sungguh berharap untuk mencapainya, sebuah sorot yang aku takutkan akan terjadi. Apakah begini laki-laki yang baik itu? Ia hadir sebagai payung yang sempurna, tiba-tiba hendak terbang tanpa mempedulikan gadis kecil yang menangis terguyur nasib yang tidak bersahabat.
"Nona tidak bisa membuatku mengurungkan niat sebagai pejalan kaki. Kakiku adalah bumi, dan matahari adalah seteguk air yang menyinarkan kedamaian pada jiwa-jiwa pengelana. Aku memang jahat, tapi kejahatan adalah hadiah kebenaran yang akan kita temukan di impian yang menunggumu di depan. Engkau perempuan yang tegar, yang mendapatkan peruntungan, berguru langsung kepada nasib, ambilah kebahagiaan itu tanpa rasa kecewa. Temui aku di persimpangan jalan, tepat ketika bunga pukul empat muncul, esok hari" katanya pada suata malam. Lalu pergi dengan langkah pasti. Mengapa orang baik selalu pergi, dan mengapa kepergian selalu meninggalkan kenangan?
Matahari sore sudah mulai meredup, seperti lampu yang tiba-tiba kehabisan minyak yang menjadi bahan bakarnya. Aku sadar, sebentar lagi, malam akan datang. Dan aku harus berhadapan dengan duniaku yang lain, dunia lain yang menjadi duniaku yang sangat nyata. Masih terasa hangat hawa tubuhnya di sekelilingku, mungkin sebelum pergi, ia juga telah duduk di kursi kayu ini. Lalu dengan perlahan kubuka bungkusan yang ia tinggalkan itu, semata hanya sebagai isyarat, bahwa aku merelakan kepergiaannya.
Di dalamnya aku temukan sebuah buku berjudul Sang Pengelana, dan di pojok kiri bawah aku menemukan pengarangnya, K. Gibran, dan secarik kertas yang bertuliskan tangannya. Sekonyong-konyong dari tulisan itu bermuncratanlah kata-kata dari suaranya yang sederhana.
"Aku berikan kepadamu secarik kain jingga
sebuah buku, bacalah
Andai aku elang
aku berharap engkau adalah kutilang
Berkawan langit menggapi bintang"
Tamparan angin, menyadarkanku untuk segera beranjak. Kutinggalkan bangku kayu di persimpangan jalan itu dengan segenam rasa di dada. Inikah perjalanan yang dimaksudnya itu, aku kemudian melangkah.
Jogjakarta, Maret 2004
catatan:
*Negeri Senja : adalah judul sebuah roman yang ditulis oleh Seno Gumira Adji Darma, terbit pada akhir tahun 2003. Roman in berkisah tentang sebuah negeri yang selalu dalam keadaan senja, waktu berlaku mutlak, senja setiap saat. Penggunaan kata 'senja' sering digunakan oleh Seno secara konsisten dan saling berhubungan. Tercatat ada beberapa karya Seno dengan setting Negeri Senja ini.
Bunga pukul empat adalah bunga yang tingginya tidak lebih dari sepinggang, batangnya beruas-ruas, bunganya ada yang berwarna putih dan merah serta putih dengan bintik-bintik merah. Bunga ini selalu kembang pada waktu sekitar pukul empat sore. Di daerah Bengkulu Selatan, bunga ini dijadikan tanda untuk segera melakukan sholat Ashar, atau waktu untuk memasak sore hari.
Sang Pengelana adalah buku karya Khalil Gibran, karya terjemahan oleh Olenka Fatten HP. Diterbitkan pertama oleh penerbit Navila pada September 2000. Judul asli karya ini adalah The Wanderer I Hope Your Happines.

Comments