« Reformasi ala Indonesia | Main | Monolog Yang Tiada Akhir »

Maldini

Pada detik-detik terakhir ia ingin memutuskan tentang sesuatu yang akan terjadi pada kelanjutan manusia, yang pertama akan menjadi prioritas perhitungannya barangkali adalah hitungan untung rugi. Rasa adalah nominasi nomor sekian, bahkan kadang tidak menjadi perhatian. Ia ditinggalkan untuk kemudian dijenguk kalau ia mendatangkan nilai yang sudah tercemar dengan angka-angka mutlak. Di mana lagi letak kemanusiaan? Kalau pada akhirnya rasa sudah menjadi kering.

Loyalitas adalah perasaan ketika manusia tidak membutuhkan selain dari kehormatan sebagai bentuk pengorbanan. Ia lahir dari sifat tanpa pamrih, telur dari ketulusan sikap. Loyalitas adalah sikap yang ketika ia mendapatkan pilihan, maka ia menjatuhkan kehendak pada pilihan yang tidak ditimbang dari nilai. Tapi terletak pada itu tadi, hormat dan tanggung jawab.

Maka kemudian hadir pahlawan-pahlawan tanpa gelimang cahaya kejayaan, ia diam tapi dikenal karena unik dalam sikapnya, loyal. Sayangnya, ia tidak mudah kita temukan pada musim modern seperti ini. Kalaupun ada, barangkali ia memang akan luput dari tayangan berita.

Maldini, adalah sosok yang menakjubkan dalam diri AC Milan. Ia tidak seperti pemain sepakbola kebanyakan, baik dari segi kemampuan maupun sikap. Bermula dari pemain cadangan, untuk kemudian hampir mengakhiri dengn kisah sukses yang lain dan menakjubkan. Apa yang lain dari Maldini?

Kemampuannya tidak bisa diragukan lagi, dengan bukti gelar-gelar yang berhasil ia raih bersama klubnya. Namun lebih dari itu, rasanya sikap, yang tercermin dalam kepribadian dan penampilannya, sulit menemukan duanya. Kecendrungan untuk tidak terlalu mengejar ketenaran, menjadikan ia sebagai sosok diam-diam tapi berpengaruh.

AC Milan, menjadi lain dari klub sepakbola lain oleh sebab salah satunya sosok Maldini ini. Kesetiaan yang ia berikan dan kemampuannya meredam emosi menjadikan sosok panutan bukan sekadar pemegang ban kapten.

Pada ritual pemberian trofi piala Liga Champion Eropa. Ia memang tampak ceria, seceria kesuksekan Milan dalam merengkuh gelar paling diidamkan semua klub untuk kesekian kalinya. Ia berjalan sederhana dirumbung kawan-kawan yang salut akan dedikasinya. Cedera yang menimpanya ia lewati dengan ajaib, bukan resep dokter yang menyembuhkan tapi semangat dedikasi, menurutku.

Satu persatu, medali itu dikalungkan oleh Michael Platini, dan lihatlah, ia berjalan di urutan terakhir untuk memberikan kebahagiaan awal pada rekan-rekannya, sungguh sebuah sikap yang bersahaja. Tapi lihatlah, ia yang kemudian didaulat untuk memegang trofi pertama-tama.

Terlepas dari dramatisir suasana, dan konsep acara yang menakjubka. Maldini tetap mengadirkan suasana yang lain di kubu Ac Milan.

Sekali lagi, loyalitas kemudian berakhir pada kejayaan seorang sosok yang berjuang. Tengoklah suasana kita, Sepak Bola Nasional, hiruk pikuk politik negeri yang compang camping ini. Barangkali kita harus sama-sama belajar pada sikap sang Paulo Maldini.

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .