« Kebangkitan | Main | Maldini »

Reformasi ala Indonesia

Kawan-kawan aktivis mahasiswa 98 tentu ingat sejarah tentang kata reformasi. sebuah kata magis yang menggeberak kemarahan semua orang, memacu emosi dan semangat untuk bertindak. Nun, beberapa tahun yang lalu, kata indah bak rembulan di saat-saaat purnama.

Reformasi kita berjalan dan terombang-ambing dalam geraknya sendiri, berbeda dan memiliki keunikan sendiri. Diam tapi terus berjalan. Konon kata orang, "ya inilah indonesia, selain nyontek, reformasinya pun seperti ini..."

tak usah kecewa, sebab perasaan itu telah terlalu banyak memakan waktu, membuang tenaga yang percuma, kadang juga seperti onani. puas tapi hanya sebatas itu-itu saja. reformasi kita adalah reformasi yang menggumpal di satu titik. cenderung menggelembung dalam anyaman satu simpul saja.

Habibi bilang, para petinggi lebih banyak terjerat dalam arus politik membabi buta. semua orang bisa melihat kondisi, tapi tak mau dan tak bisa bergerak. semua orang dapat dengan mudah bicara tentang analisis kesalahan masing-masing, tapi menghindar dari kerja setelah itu. alasan menjadi senjata ampuh rasa sakit dan sakit menjadi makanan sehari-hari yang kian nikmat dan nikmat.

Para pemimpin terlalu fokus dengan penyelamatan kepemimpinannya, terlalu hati-hati menjaga citra diri agar suasana nyaman dalam kekuasaan berjalan langgeng, kalau bisa selamanya, walau undang-undang tidak mengijinkan. Lalu kapan kita berbuat, kalau semua orang, politikus kecil sampai besar semuanya bersifat sama. sama-sama ingin bertahan? Citra yang mereka anggap sama sekali tidak dijelaskan oleh tindakan yang merupakan cermin dari gambar diri masing-masing. Tapi yang ada adalah pencitraan, lewat apa saja. Iklas, tapi tidak ikhlas, jujur dengan kebohongan sendiri supaya terlihat jujur, dan semua orang jadi menghormati.

Fachri Ali, berkata. Bagusnya, pemimpin tidak memikirkan apakah kekuasaanya akan bertahan atau tidak, lalu ia fokus pada permasalahan yang sedang dihadapi. Demikianlah. Persetan dengan citra.....

Walhasil, inilah reformasi kita. Berprestasi atau tidak, harus kita akui sebagai keadaan aktual masyarakat yang bernama Indonesia.

8, 9, 10, 01, 02, 03, 04, 05, 06, 07... sudah sembilan tahun. bukankah waktu itu sudah cukup lama bagi kita untuk sama-sama belajar?

                            

Comments

Memang banyak yang pergi
tidak sedikit yang lari
tak terhingga yang diam bersembunyi
tapi perubahan adalah kepastian
dan... untuk itu kami bertahan
kami masih ada
masih bergerak
dan terus melawan!
www.pena-98.com
www.adiannapitupulu.blogspot.com

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .